Skip to content
Suarhanara.id
SUARHANARA.ID

Menulis dengan hati hingga hati tak mampu menulis kembali

  • About
  • Artikel
  • Cerpen
  • Proyek
  • Puisi
  • Tips Menulis
  • More
Suarhanara.id
SUARHANARA.ID

Menulis dengan hati hingga hati tak mampu menulis kembali

[PUISI] Ia Menangis, Tapi Langit Tak Menoleh

HanaSalsa, Februari 5, 2026Februari 9, 2026

Ia menangis, tapi langit terlalu tinggi untuk peduli

Langit sibuk menyusun rencana tuk menata citra diri

Barangkali jeritan, tangisan, kekecewaan, amarah, kesedihan, kesulitan
hanya berakhir sebagai suara yang gugur sebelum tiba

Barangkali semua itu hanya desau yang lewat di telinga kekuasaan tanpa pernah dianggap suara

Ia menangis mengenakan celana yang sama

yang makin hari makin sempit oleh usia

Diam-diam mengingatkannya, betapa waktu tak pernah benar-benar ramah

sementara langit, tampak semakin sesak oleh hal-hal yang tak pernah menjadi miliknya

Barangkali untuk diakui sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa” tapi tidak,

barangkali itu hanya nyanyian penghiburan

Barangkali kata “pahlawan” sengaja dibiarkan indah agar tak ada yang merasa perlu membayar harga dari pengabdian.

Barangkali sebutan mulia itu hanya cara halus untuk membuat ketidakadilan terdengar sopan

Kuningan, 27 Januari 2026

Puisi guruhonorerkaryaprosaprosafiksipuisipuisigurusastra

Navigasi pos

Previous post
Next post

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Februari 2026
  • Oktober 2025
  • Agustus 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Recent Posts

  • [PUISI] Hilangnya Moralitas Pengatur Negeri
  • [PUISI] Guru Honorer
  • [PUISI] Kesabaran Bukan Hal Mulia Ketika Tidak Ada Keadilan
  • [PUISI] Buruh Pengetahuan
  • [PUISI] Jatuh Cinta pada Diri Sendiri
©2026 SUARHANARA.ID | WordPress Theme by SuperbThemes