[PUISI] Ia Menangis, Tapi Langit Tak Menoleh HanaSalsa, Februari 5, 2026Februari 9, 2026 Ia menangis, tapi langit terlalu tinggi untuk peduli Langit sibuk menyusun rencana tuk menata citra diri Barangkali jeritan, tangisan, kekecewaan, amarah, kesedihan, kesulitanhanya berakhir sebagai suara yang gugur sebelum tiba Barangkali semua itu hanya desau yang lewat di telinga kekuasaan tanpa pernah dianggap suara Ia menangis mengenakan celana yang sama yang makin hari makin sempit oleh usia Diam-diam mengingatkannya, betapa waktu tak pernah benar-benar ramah sementara langit, tampak semakin sesak oleh hal-hal yang tak pernah menjadi miliknya Barangkali untuk diakui sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa” tapi tidak, barangkali itu hanya nyanyian penghiburan Barangkali kata “pahlawan” sengaja dibiarkan indah agar tak ada yang merasa perlu membayar harga dari pengabdian. Barangkali sebutan mulia itu hanya cara halus untuk membuat ketidakadilan terdengar sopan Kuningan, 27 Januari 2026 Puisi guruhonorerkaryaprosaprosafiksipuisipuisigurusastra